Bupati Belu
Drs. Joachim Lopez
Wakil Bupati Belu
drg. Gregorius Mau Bili F. DDPH


Salah Satu Pakaian Adat Kabupaten Belu


 


Mailbox
 

Perlu di kunjungi :


MPR R.I.

DPR R.I.

Pemerintah R.I.

Indonesia

Indonesia One

Indonesia Elga

Sejarah Indonesia

Info Indonesia

Indonesia Wisata

Depdagri

Pusat Statistik

KPU

 

 

 

   Tradisi & Budaya


Tarian Likurai


Tari Likurai

     Salah satu dari sekian kebudayaan daratan Belu adalah Tarian Likurai, yang pernah memukau warga ibukota Jakarta di tahun 60-an.
     Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang didendangkan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon, ketika para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan) para feto (wanita) cantik atau gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para pahlawan dengan membawakan tarian Likurai. Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun (suku yang ada di Belu) mempunyai arti mungasai bumi. Liku artinya menguasai, Rai artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukkan bumi, tanah air tercinta.
       Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan dari medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang atau parang yang berhias perak. Sementara itu beberapa mane (laki-laki) menyanyikan pantun bersyair keberanian, memuja pahlawan.
        Konon kepala musuh yang dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkan ke tanah. Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para pahlawan tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut Ksadan. Para tua adat telah menunggu di sini dan menjemput para pahlawan sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu serta menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah musuh yang telah ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
        Pada masa kini, tarian tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini dipentaskan, maka terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.


(Sumber : Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Indonesia Indah No. 42/1992)



 


 

Copyright © 2004  by
Kantor Pengolahan Data Elektronik (PDE)
Kabupaten Belu
Email : pde@atambua-ntt.go.id

 
 
   

Tabel Data Geografi
Data Penduduk
- Kepadatan Penduduk
- Menurut Jenis Kelamin
- Menurut Warga Negara
- Menurut Status Nikah
- Menurut Gol. Umur
- Menurut Pekerjaan
- Pencari Pekerjaan
- Tamatan Tenaga Kerja
Data Sosial
- Pemeluk Agama
- Tempat Ibadah
- Data Fakir Miskin
- Penyandang Cacat
Data Kesehatan
- Sarana Kesehatan
- Tenaga Kesehatan
- Banyaknya Penyakit
- Jumlah Akseptor KB
Data Pendidikan
- Pendidikan Terakhir
- Sekolah, Guru, Murid
Data Transportasi
- Banyaknya Kendaraan
- Data Mobil/Bus Trayek
- Data Mobil Barang
- Data Penumpang Kapal
- Bongkar Muat Kapal
- Penumpang Pesawat
- Bongkar Muat Pesawat
Data Kehutanan
- Luas Kawasan Hutan
- Produksi Kayu
Data Perindustrian
- Jumlah Perusahaan
- Pekerja Industri
- Industri / Investasi
Tabel Data Pertanian
Tabel Data Perkebunan
Tabel Data Peternakan