|
Tarian Likurai

Tari Likurai
Salah satu dari sekian
kebudayaan daratan Belu adalah Tarian Likurai, yang pernah memukau
warga ibukota Jakarta di tahun 60-an.
Tarian Likurai dahulunya merupakan
tarian perang, yaitu tarian yang didendangkan ketika menyambut atau
menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon, ketika
para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang
telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan) para feto (wanita)
cantik atau gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan
menjemput para pahlawan dengan membawakan tarian Likurai. Likurai
itu sendiri dalam bahasa Tetun (suku yang ada di Belu)
mempunyai arti mungasai bumi. Liku artinya menguasai, Rai
artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud
penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau
menaklukkan bumi, tanah air tercinta.
Tarian adat ini ditarikan oleh
feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk
lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak
sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan
berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai
ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali
para pahlawan dari medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang
atau parang yang berhias perak. Sementara itu beberapa mane (laki-laki)
menyanyikan pantun bersyair keberanian, memuja pahlawan.
Konon kepala musuh yang
dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkan ke tanah.
Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para
pahlawan tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut
Ksadan. Para tua adat telah menunggu di sini dan menjemput para
pahlawan sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu serta
menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah musuh yang telah
ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada
khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
Pada masa kini, tarian
tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada
upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini
dipentaskan, maka terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk
menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.
(Sumber : Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat
dalam majalah Indonesia Indah No. 42/1992)
|