|
Ksadan Takirin

Bagian dari prosesi Ksadan Takirin
Ksadan
merupakan peninggalan nenek moyang Kabupaten Belu yaitu sebuah
tempat persidangan para raja tempo dulu yang berdiri di sebuah bukit
kecil di Lereng Gunung Lakaan, Takirin, Tasifeto Timur. Untuk sampai
ke lokasi tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama, karena jarak
dari pusat kota Belu hanya 14 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan
roda dua maupun roda empat. Selain dapat menyaksikan peninggalan
para raja, pemandangan dari bukit ini amat indah.
Untuk menuju lokasi
dapat diantar oleh pemandu jalan/juru kunci. Untuk memasuki Ksadan,
terlebih dahulu juru kunci membuat sajian diikuti dengan pembacaan
mantra. Kemudian juru kunci akan memberitahukan waktu yang tepat
untuk masuk Ksadan. Pertama kali masuk Ksadan akan menjumpai sebuah
bangunan lempengan- lempengan batu berwana hitam yang disusun
setinggi satu meter. Di bagian atas bangunan tersebut terdapat
sepasang batu, yang satu menyerupai bola dan satunya menyerupai
telur, sebgai gambaran sumber kehidupan yang selalu berpasangan.
Bangunan ini diberi nama Uru Datok Knuk Datok.
Ditengah-tengah bangunan ini terdapat
Nawa Ruas Au Fatuk, sebuah batu seperti kuali yang sengaja
dipajang untuk menyimpan kepala musuh yang tewas dalam peperangan
melawan kerajaan Fehalaran. Di tempat ini juga dibuat sesajian
kepada Dewata.
Memasuki gerbang agung terlihat
Ksadan Mane yang terdiri dari tiga buah lempengan batu hitan
yang ditata seperti tungku, melambangkan keagungan Tuhan dan sumber
kekuatan kerajaan. Menurut cerita, batu tersebut merupakan tempat
duduk Meo (para panglima perang) dari tiga kerajaan
kecil yakni Tohe, Aitoun, dan Asumanu yang masuk dalam wilayah
kerajaan Fehalaran. Di sini juga tempat makam raja-raja pertama
Kerajaan Fehalaran yaitu Mauk Troi Nurak dan Mauk Troi Tuan. Dari
tempat ini pengunjung dapat langsung menuju ke Ksadan Utama yaitu
Ksadan Halimodok.
Selain itu pengunjung dapat
menyaksikan tempat duduk wali wilayah dari kerajaan-kerajaan kecil,
singgasana penguasa kerajaan, dan benda-benda lain yang kesemuanya
terbuat dari batu-batuan yang ditata sedemikian rupa sehingga
menimbulkan kesan yang asri.
(Sumber :
Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Indonesia
Indah No. 44/1993)
|