|
Lasi An Kon Aufnao An Kon

Prosesi Cukur Rambut
Upacara
menyambut datangnya kelahiran sang bayi disetiap daerah mempunyai ciri
khas tersendiri. Demikian juga dengan suku Dawan yang ada di pulau
Timor ini. Dalam suku Dawan adat penyambutan sang bayi disebut lasi
an kon aufnao an kon, yang artinya mengeluarkan abu dapur/tungku.
Maksudnya mengeluarkan bara api dari tungku untuk dipindahkan ke bawah
kolong tempat tidur, agar ibu yang habis melahirkan dan bayinya
dihangatkan dan tidak merasa kedinginan.
Dimulainya upacara ini ketika sang ibu mau
melahirkan anaknya, yang didampingi oleh a mahonet (dukun
bersalin), a palolet (dukun yang pandai mengurut dan meramu
jamu bersalin), dan a tasat (dukun yang pandai memandikan
wanita bersalin dengan ramuan obat-obatan). Sementara itu sang
suami dan paman laki-laki dari sang bayi menyiapkan bara api. Kayu
yang dipakai untuk membikin bara api bukan sembarang kayu, tetapi
harus dari kayu kusambi.
Saat terdengar bayi lahir dan dukun bayi telah mengucapkan kalimat
ok'en, artinya persalinan telah selasai dan berlangsung dengan selamat,
maka saat itu pula sang suami menyalakan api. Setelah kayu menjadi
bara, maka dilakukan ritus kou aufnau atau memindahkan bara api
ke kolong tempat tidur sang ibu dan bayinya. Hal ini dilakukan oleh
sang suami dan paman dari bayi secara bersama-sama.
Sementara itu untuk menolak bala dan gangguan, tangan
sang bayi dililit dengan benang hitam. Sampai hari ke empat sang ibu
dan bayinya tidak boleh turun dari tempat tidur. Untuk menyusui
bayinya, sang ibu harus diberkati oleh bibi perempuan, yakni bibi
perempuan yang biasa menjaga rumah adat. Sang bibi inilah yang
menyentuh puting susu sang ibu lalu membersihkan dan meneteskan ke
mulut bayi.
Menurut kepercayaan, ari-ari sang bayi harus
digantungkan di atas pohon kusambi. Ini dilakukan agar kelak sang bayi
memiliki tubuh dan jiwa yang kuat sebagaimana sifat pohon kusambi.
Namun kadang-kadang ari-ari tersebut ditanam, tergantung dari situasi.
Pada ari-ari bayi laki-laki, dimasukan sepotong besi,
biji jagung, dan padi, tanduk atau bulu binatang, dengan keyakinan
agar kelak sang anak menjadi seorang petani dan peternak yang hebat.
Sedang ari-ari pada bayi perempuan dimasukan benang agar kelak menjadi
seorang penenun yang hebat.
Upacara ini kemudian ditutup dengan suguhan sirih
pinang, makanan (tergantung dari kemampuan keluarga), untuk
mereka yang telah membantu proses persalinan tersebut. Pada saat itu
juga dibicarakan upacara sesudah empat hari kelahiran sang bayi yang
disebut napoitan liana.
(Sumber : Surat Kabar
Pos Kupang, Minggu, 10 Juni 2001)
|