Bupati Belu
Drs. Joachim Lopez
Wakil Bupati Belu
drg. Gregorius Mau Bili F. DDPH


Salah Satu Pakaian Adat Kabupaten Belu


 


Mailbox
 

Perlu di kunjungi :


MPR R.I.

DPR R.I.

Pemerintah R.I.

Indonesia

Indonesia One

Indonesia Elga

Sejarah Indonesia

Info Indonesia

Indonesia Wisata

Depdagri

Pusat Statistik

KPU

 

 

 

   Tradisi & Budaya


Lasi An Kon Aufnao An Kon


Prosesi Cukur Rambut

   Upacara menyambut datangnya kelahiran sang bayi disetiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri. Demikian juga dengan suku Dawan yang ada di pulau Timor ini. Dalam suku Dawan adat penyambutan sang bayi disebut lasi an kon aufnao an kon, yang artinya mengeluarkan abu dapur/tungku. Maksudnya mengeluarkan bara api dari tungku untuk dipindahkan ke bawah kolong tempat tidur, agar ibu yang habis melahirkan dan bayinya dihangatkan dan tidak merasa kedinginan.
      Dimulainya upacara ini ketika sang ibu mau melahirkan anaknya, yang didampingi oleh a mahonet (dukun bersalin), a palolet (dukun yang pandai mengurut dan meramu jamu bersalin), dan a tasat (dukun yang pandai memandikan wanita bersalin dengan ramuan obat-obatan). Sementara itu  sang suami dan paman laki-laki dari sang bayi menyiapkan bara api. Kayu yang dipakai untuk membikin bara api bukan sembarang kayu, tetapi harus dari kayu kusambi.
     Saat terdengar bayi lahir dan dukun bayi telah mengucapkan kalimat ok'en, artinya persalinan telah selasai dan berlangsung dengan selamat, maka saat itu pula sang suami menyalakan api. Setelah kayu menjadi bara, maka dilakukan ritus kou aufnau atau memindahkan bara api ke kolong tempat tidur sang ibu dan bayinya. Hal ini dilakukan oleh sang suami dan paman dari bayi secara bersama-sama.
     Sementara itu untuk menolak bala dan gangguan, tangan sang bayi dililit dengan benang hitam. Sampai hari ke empat sang ibu dan bayinya tidak boleh turun dari tempat tidur. Untuk menyusui bayinya, sang ibu harus diberkati oleh bibi perempuan, yakni bibi perempuan yang biasa menjaga rumah adat. Sang bibi inilah yang menyentuh puting susu sang ibu lalu membersihkan dan meneteskan ke mulut bayi.
     Menurut kepercayaan, ari-ari sang bayi harus digantungkan di atas pohon kusambi. Ini dilakukan agar kelak sang bayi memiliki tubuh dan jiwa yang kuat sebagaimana sifat pohon kusambi. Namun kadang-kadang ari-ari tersebut ditanam, tergantung dari situasi.
     Pada ari-ari bayi laki-laki, dimasukan sepotong besi, biji jagung, dan padi, tanduk atau bulu binatang, dengan keyakinan agar kelak sang anak menjadi seorang petani dan peternak yang hebat. Sedang ari-ari pada bayi perempuan dimasukan benang agar kelak menjadi seorang penenun yang hebat.
     Upacara ini kemudian ditutup dengan suguhan sirih pinang, makanan (tergantung dari kemampuan keluarga),  untuk mereka yang telah membantu proses persalinan tersebut. Pada saat itu juga dibicarakan upacara sesudah empat hari kelahiran sang bayi yang disebut napoitan liana.

(Sumber : Surat Kabar Pos Kupang, Minggu, 10 Juni 2001)


 

Copyright © 2004  by
Kantor Pengolahan Data Elektronik (PDE)
Kabupaten Belu
Email : pde@atambua-ntt.go.id

 
 
   

Tabel Data Geografi
Data Penduduk
- Kepadatan Penduduk
- Menurut Jenis Kelamin
- Menurut Warga Negara
- Menurut Status Nikah
- Menurut Gol. Umur
- Menurut Pekerjaan
- Pencari Pekerjaan
- Tamatan Tenaga Kerja
Data Sosial
- Pemeluk Agama
- Tempat Ibadah
- Data Fakir Miskin
- Penyandang Cacat
Data Kesehatan
- Sarana Kesehatan
- Tenaga Kesehatan
- Banyaknya Penyakit
- Jumlah Akseptor KB
Data Pendidikan
- Pendidikan Terakhir
- Sekolah, Guru, Murid
Data Transportasi
- Banyaknya Kendaraan
- Data Mobil/Bus Trayek
- Data Mobil Barang
- Data Penumpang Kapal
- Bongkar Muat Kapal
- Penumpang Pesawat
- Bongkar Muat Pesawat
Data Kehutanan
- Luas Kawasan Hutan
- Produksi Kayu
Data Perindustrian
- Jumlah Perusahaan
- Pekerja Industri
- Industri / Investasi
Tabel Data Pertanian
Tabel Data Perkebunan
Tabel Data Peternakan